23 Maret 2011

RESPIRATORY SISTEM PADA SERANGGA



Sistem respirasi pada serangga berlangsung tanpa paru-paru dan menggunakan semcam tabung internal yang disebut trachea dan kantung udara dimana oksigen (O2) berdifusi ke dalam jaringan tubuhnya dan melepaskan kabon dioksida (CO2) yang diproduksi sebagai produk limbah dari respirasi selular. Sistem respirasi serangga (dan arthropoda lainnya) terpisah dari sistem peredaran darah. Sistem ini berupa jaringan tabung yang kompleks (disebut sistem trakea) yang memberikan udara yang mengandung oksigen ke setiap sel tubuh. Sistem trachea  ini didukung oleh beberapa organ atau jaringan penting, yaitu spirakel, trachea, tracheolus, dan kantung udara (air sacs).


Gambar 1. Hasil Pengamatan Sistem Respirasi pada Belalang (Orthoptera: Acrididae): 1. spiracle; 2.  tracheal trunk; 3. tracheal tube; 4. air sacs; 5. otot dada


Gambar 1 memperlihatkan sebagian besar dari bagian-bagian penting  pada sistem respirasi serangga. Bagian-bagian tersebut terdiri dari spirakel, tracheal trunk, tracheal tube, dan kantung udara (air sacs). Katub (valve), rambut-rambut halus pada spirakel, dan tracheolus tidak jelas terlihat.

Sistem respirasi pada serangga dikenal dengan sistem trachea yang didukung oleh bagian-bagian, diantaranya adalah spiracle (Gambar 1.1), tracheal trunk (Gambar 1.2), tracheal tube (Gambar 1.3), dan air sacs (atau kantung udara, Gambar 1.4).


Gambar 2. Sistem Respirasi pada Serangga: 
I. Tampak samping; II. Tampak depan. 
(Warna merah adalah bagian dimaksud): 
A. spiracles; B. tracheal trunk; C. tracheal tubes; D. air sacs 
(Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)
Udara masuk ke dalam tubuh serangga melalui lubang spirakel (Gambar 1.1 dan 2A) yang terdapat pada bagian lateral sepanjang toraks dan abdomen serangga. Aliran udara diatur oleh otot-otot kecil yang mengoperasikan satu atau dua katup (valve) yang terdapat pada setiap spirakel – mengerut (contracting) untuk menutup spirakel, atau mengendor (relaxing) untuk membukanya.

Setelah melewati spirakel, udara memasuki batang trakea (tracheal trunk, Gambar 1.2. dan 2B) secara longitudinal, dan menyebar ke seluruh kompleks percabangan jaringan tabung takrea (tracheal tube, Gambar 1.3 dan 2C) yang terbagi lagi ke dalam bagian yang lebih kecil hingga mencapai mencapai setiap bagian dari tubuh. Pada akhir setiap cabang trakea, terdapat tracheolus untuk pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara  dalam sel hidup. Oksigen dalam tabung trakea pertama larut dalam cairan tracheolus dan kemudian berdifusi ke dalam sitoplasma dari sel yang berdekatan. Pada saat yang sama, karbon dioksida, yang diproduksi sebagai produk limbah dari respirasi selular, berdifusi keluar dari sel dan, akhirnya, keluar dari tubuh melalui sistem trakea.

Tidak adanya taenidia pada bagian-bagian tertentu dari sistem trakea memungkinkan pembentukan kantung udara (air sacs, Gambar 1.4 dan 2D) yang kolapsibel, dengan struktur seperti balon yang dapat menyimpan cadangan udara. Pada lingkungan darat yang kering, suplai udara sementara ini memungkinkan serangga untuk menghemat air dengan menutup spirakel selama periode tekanan evaporasi tinggi. Serangga air mengkonsumsi udara yang disimpan ketika berada dalam air atau menggunakannya untuk mengatur daya apung. Selama molting, kantung udara terisi dan membesar selama pergantian exoskeleton lama dengan eksoskeleton baru. Di antara molting, kantung-kantung udara memberikan ruang bagi pertumbuhan baru - volume menyusut karena dimampatkan oleh perluasan organ internal.


Referensi:
  • Achterberg, K., et al., 1991. The Insects of Australia. Division of Entomology CSIRO Australia. Melbourne University Press.
  • Gullan, D. J. and Cranston, P. S. 2005. The Insects: An Outline of Entomology Blackwell Publishing Ltd, UK.
  • Klowden MJ. 2007. Physiological Systems in Insects. Second Edition. Academic Press, Elsevier. Burlington, 01803, USA.
  • McGavin, G. C. 2001. Essential Entomology; An order by order introduction. Oxford University Press, New York.
  • Meyer, John R. 2009. General Entomology - Respiratory System. Department of Entomology NC State University. Last Updated:   8 April 2009. http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425/library/tutorials/internal_anatomy/respiratory.html. Diakses pada 02 February 2011.
  • Triplehorn, C. A. and Johnson, N. F. 2005. Borror and DeLong’s Introduction to the Study of Insects (7th Ed). Brooks/Thomson Cole USA. 

Yos F. da Lopes. Copyright © 2011.  Last updated 23 Maret 2011.
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

SISTEM SARAF PADA SERANGGA


Seperti kebanyakan arthropoda lainnya, serangga memiliki sistem syaraf pusat yang relatif sederhana dengan otak (A) dorsal terhubung dengan tali saraf ventral (ventral nerve cord, B) yang terdiri dari segmental ganglia yang terletak sepanjang garis tengah ventral thoraks dan abdomen. Ganglia dalam setiap segmen dihubungkan satu sama lain oleh saraf medial pendek dan juga dihubungkan dengan penghubung intersegmental  (inter-segmental connectives)  menuju ganglia di segmen tubuh yang berdekatan.

Gambar 1. Hasil Pengamatan Sistem Saraf pada Belalang (Orthoptera: Acrididae): 
A. Ganglia thoraks; B. Abdominal ganglion; C. penghubung intersegmental
Secara umum, sistem saraf pusat tampak seperti tangga: commissure (Gambar 2.8) adalah anak tangga dan penghubung intersegmental (Gambar 1C dan 2D) adalah relnya. Dalam ordo-ordo serangga terdapat kecenderungan ganglia individual untuk bergabung (baik secara lateral maupun longitudinal) membentuk ganglia yang lebih besar yang melayani beberapa segmen tubuh.

Gambar 2. Sistem Saraf Pusat. A. Brain;  B. ventral nerve cord (B); 
C. subesophageal ganglion; D. intersegmental connectives; 
E. thoracic ganglia; F. abdominal ganglia; 1. Protocerebrum; 
2. deutocerebrum;3. Tritocerebrum; 9. circumesophageal connectives;   
4. optic lobe; 5. mandible; 6. maxilla; 7. Labium; 8. commissure
Otak serangga adalah kompleks dari enam ganglia yang menyatu (tiga pasang) yang terletak pada bagian dorsal dalam kapsul kepala. Setiap bagian dari otak mengontrol (menginnervasi) spektrum yang terbatas terhadapa aktifitas dalam tubuh serangga:

Protocerebrum (Gambar 2.1): Pasangan pertama ganglion yang umumnya terkait dengan visi, innervasi mata majemuk dan ocelli.

Deutocerebrum (Gambar 2.2): Pasangan kedua ganglia yang memproses informasi sensorik yang dikumpulkan oleh antena.

Tritocerebrum (Gambar 2.3): Pasangan ketiga ganglia yang menginnervasi labrum dan mengintegrasikan input sensorik dari proto-dan deutocerebrums. Ganglia tersebut juga menghubungkan otak dengan ventral nerve cord sisanya dan sistem saraf stomodaeal yang mengontrol organ internal.

Pada bagian ventral kapsul kepala (tepat di bawah otak dan esophagus) terdapat kompleks ganglia gabungan yang disebut ganglion subesophageal, Gambar 2C). Pada serangga modern, ganglion subesophageal menginnervasi tidak hanya mandibula, maxillae, dan labium, tetapi juga hipofaring, kelenjar ludah, dan otot leher. Sepasang penghubung circumesophageal (Gambar 2.9) menyimpul sekitar sistem pencernaan untuk menghubungkan otak dan kompleks subesophageal bersama-sama.

Pada thoraks, terdapat tiga pasang ganglia thoraks (Gambar 1A dan 2E, kadang-kadang menyatu) mengontrol locomotion dengan menginnervasi kaki dan sayap. Otot thoraks dan reseptor sensorik juga terhubung dengan ganglia ini. Demikian pula, ganglia abdominal (Gambar 1B dan 2F) mengontrol gerakan otot abdominal (perut). Spirakel baik di thoraks maupun perut dikendalikan oleh sepasang saraf lateral yang timbul dari setiap segmental ganglion (atau melalui saraf median ventral yang menghubungkan setiap sisinya). Sepasang terminal abdominal ganglia (biasanya menyatu untuk membentuk caudal ganglion yang besar) menginnervasi anus, genitalia internal dan eksternal, dan reseptor sensorik (seperti cerci) yang terletak di bagian ujung belakang serangga.


Referensi:
  • Achterberg, K., et al., 1991. The Insects of Australia. Division of Entomology CSIRO Australia. Melbourne University Press.
  • Gullan, D. J. and Cranston, P. S. 2005. The Insects: An Outline of Entomology Blackwell Publishing Ltd, UK.
  • Klowden MJ. 2007. Physiological Systems in Insects. Second Edition. Academic Press, Elsevier. Burlington, 01803, USA.
  • McGavin, G. C. 2001. Essential Entomology; An order by order introduction. Oxford University Press, New York.
  • Meyer, John R. 2009. General Entomology - The Nervous System. Department of Entomology NC State University. Last Updated:   8 April 2009. http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425/library/tutorials/behavior/nervous.html. Diakses pada 02 February 2011.
  • Triplehorn, C. A. and Johnson, N. F. 2005. Borror and DeLong’s Introduction to the Study of Insects (7th Ed). Brooks/Thomson Cole USA.


Yos F. da Lopes. Copyright © 2011. 
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com
  

MIGRATORY LOCUST: BELALANG KEMBARA


Yos F. da Lopes. Copyright © 2011.  Last updated 23 Maret 2011.
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

Kingdom: Animalia
Phylum : Arthropoda
Class: Insecta
Order: Orthoptera
Suborder: Caelifera
Family: Acrididae
Subfamily: Oedipodinae
Tribe: Locustini
Genus: Locusta
Species: migratoria

Nama Ilmiah:     Locusta migratoria (Linnaeus, 1758).
Sinonim: Locusta dancia L.; Pachytylus migratorius; P. danicus; Acridium migratorium.

Belalang kembara terdiri atas beberapa spesies utama, yaitu Locusta migratoria migratoria (Asia Barat dan Tengah, Eropa Timur), Locusta migratoria migratorioides (daratan Afrika dan pulau-pulau Atlantik), Locusta migratoria Capito (Madagaskar), Locusta migratoria manilensis (Asia Timur termasuk Indonesia), dan spesies lainnya seperti Schistocerca gregarius dan Nomadacris septemfasciata.

MORFOLOGI & BIOLOGI

Belalang dewasa panjang tubuhnya 35-50 mm pada jantan, 45-55 mm pada betina; dewasa gregarius bervariasi dalam ukuran antara 40 dan 60 mm menurut jenis kelaminnya dan lebih kecil daripada dewasa yang hidup soliter. Frons vertical; elytra panjang, mengkilat, 43.5-56.0 mm pada jantan, 49.0-61.0 mm pada betina. Sayap berwarna, tanpa bands. Femora belakang hitam-kebiruan mulai dari bagian basal. Panjang femur belakang 22-26 mm pada jantan, 20-32 mm pada betina. Tibia belakang kekuningan atau merah. Thorax ditutupi dengan sejumlah rambut pendek. Pronotum tanpa cruciform,  berbentuk pelana pada individu fase gregariuos, dengan strangulasi (strangulation) yang jelas dan “median keel” yang lurus atau sedikit cekung (tampak lateral). Pada individu fase soliter, pronotum tidak memiliki strangulasi, dengan “median keel” yang cembung (tampak lateral). Larva memiliki 5 instar.

Gambar 1. Nimfa Soliter Locusta Migratori
Warna dan ukuran belalang kembara bervariasi sesuai fase (bentuk gregarius atau soliter) dan umur. Nimfa gregarius berwarna kuning hingga oranye dengan bintik-bintik hitam. Nimfa soliter berwarna hijau (Gambar 1) atau coklat. Dewasa gregarius berwarna kuning kecoklatan. Dewasa soliter berwarna coklat dengan berbagai tingkatan warna hijau tergantung pada warna vegetasi. 

DISTRIBUSI

Belalang kembara (Locusta migratoria) memiliki sebaran yang luas, mulai dari Afrika, Asia, Australia, dan Selandia Baru. Belalang ini juga tersebar pada hampir semua daerah beriklim sedang dan tropis di belahan timur bumi, batas utara di Eurasia hingga batas selatan zona taiga, bagian tengah dan selatan Eropa, Kaukasus, selatan Siberia dan Primorskii Territory, Kazakhstan, Asia Tengah, pulau Kurile.

Belalang kembara sangat mobile, dan terbang mengikuti angin dengan kecepatan sekitar 15-20 km/jam, mencapai 5-130 km atau lebih dalam sehari; kelompok belalang berkisar kurang dari satu kilometer persegi sampai beberapa ratus kilometer persegi dengan 4-80 juta individu per kilometer persegi.

EKOLOGI

Setelah telur belalang menetas, perkembangan berlangsung 35-40 hari (yaitu, 7-8 hari untuk setiap instar). Nimfa fase gregarius umumnya ada bersama kelompok pada hari-hari pertama setelah menetas. Kepadatan maksimum mencapai 80.000 indidvidu/m2 untuk nimfa instar pertama dan 7.000 individu/m2 untuk nimfa instar ke-5. Nimfa instar ke-5 dapat bermigrasi mencapai 3 km/hari. Pengembaraan (migrasi) belalang dimulai sekitar 10 hari setelah bersayap. Kopulasi mulai terjadi dalam 2-4 minggu setelah bersayap; dalam 2-3 minggu, betina mulai bertelur. Setiap betina dapat menghasilkan 2-3 kelompok telur (untuk daerah selatan dan pada cuaca hangat) berisi rata-rata 60-80 telur. Setiap individu belalang dapat mengkonsumsi 300-500 gram pakan hijau selama hidupnya; seekor belalang dewasa dapat mengkonsumsi sekitar 2 gram pakan segar per hari atau setara dengan satu ton pakan per satu juta belalang. Dinamika populasi bergantung erat pada perubahan neraca air di daerah reproduksi; banjir dan kekeringan yang menyebabkan kurangnya pasokan makanan dan tempat untuk reproduksi. Perkembangan populasi belalang juga terjadi akibat dari perubahan iklim dengan curah hujan rata-rata 177,9 mm/tahun dengan hari hujan 11,3 kali/bulan; suhu rata-rata berkisar 23,6°C – 26,8°C dengan rata-rata suhu siang hari 31,1°C.

Belalang kembara memiliki alat indra mata, telinga dan kumis yang digunakan sebagai antena. Alat indra tersebut berfungsi untuk mengatur sistem perpindahan, informasi serta komunikasi antara jantan dan betina dalam perkembangbiakannya. Komunikasi sesama belalang kembara ini berada pada rentang frekuensi puluhan kilo hertz dan merupakan jenis gelombang ultrasonic.

Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin. Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari tersebut biasanya dimakan sampai habis. Sedangkan kelompok besar nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok.

POLIFENISME

Belalang kembara bersifat polyphonic, yaitu memiliki fase transisi (intermediate) antara dua fenotipe utama dalam responnya terhadap kepadatan populasi, fase soliter dan fase gregarius. Karena meningkatnya kepadatan populasi, belalang berubah secara progresif dari fase soliter ke fase gregarius melalui fase intermediate (Gambar 8). Fase soliter terjadi ketika belalang berada pada populasi rendah. Fase transisi (transient) dimulai saat populasi belalang sudah cukup tinggi dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil. Fase gregarius, terjadi saat kelompok-kelompok belalang telah bergabung dan membentuk gerombolan yang sangat besar yang sangat merusak tanaman.

Gambar 2. Perubahan Fase dari Soliter ke Gregarious dan sebaliknya  
pada  Locusta migratoria  melalui Fase Intermediat  (transiens congregans 
dan transien dissocians (Gambar diadaptasikan dari Walker, 2000)
Perubahan dari fase soliter ke gregarius dan sebaliknya dari gregarius ke soliter dipengaruhi oleh kondisi iklim, biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (di bawah normal). Pada keadaan tersebut, biasanya, terjadi peningkatan konsentrasi populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang. Lokasi tersebut biasanya mempunyai lahan yang terbuka atau banyak rerumputan, tanahnya gembur berpasir, dekat sumber air (sungai, danau, rawa) sehingga kondisi tanahnya cukup lembab. Setelah berlangsung 3-4 generasi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan, bealalang akan berkembang menjadi fase gregarius, melalui fase transient (transient congregans).

Perubahan fase gregarius kembali ke fase soliter, biasanya terjadi apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupannya, terutama karena pengaruh curah hujan, tekanan musuh alami dan atau tindakan manusia melalui usaha pengendalian. Perubahan ini melalui fase transient (transient dissocians). Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin. Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari tersebut biasanya dimakan sampai habis. Sedangkan kelompok besar nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok.

SIGNIFIKANSI EKONOMI

Nimfa dan dewasa fase gregarius sangat berbahaya bagi tanaman gandum, jagung, beras, panicum, sorgum, alfalfa, kacang polong, kacang panjang, kedelai, cengkeh, kentang, tembakau, kubis, ketimun, semangka, melon, dan jenis labu lainnya, kapas, rami, sayuran, tanaman buah yang masih muda, tanaman hutan, dan tanaman rempah, padang rumput ternak. Individu fase soliter menimbulkan kerusakan kecil pada tanaman sayuran berbagai padi, kapas, dan tanaman perkebunan tertentu. Populasi belalang kembara yang sangat tinggi dapat menimbulkan kerusakan tanaman holtikultura (padi, jagung dan sayur-sayuran) sampai dengan tanaman kelapa sawit. Pada tahun 1999 serangan hama belalang kembara mencapai 9 kecamatan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dengan luas daerah serangannya mencapai 4420 ha daerah pertanian dan perkebunan.

PENGENDALIAN

Belalang kembara dapat dikendalikan melalui pengendalian dengan musuh alami menggunakan jamur Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana; kultur teknis/pola tanam dengan cara pengaturan pola tanam dan sanitasi lingkungan; fisik/mekanis dengan cara pemusnahan kelompok telur dengan pengolahan tanah langsung dan penangkapan dengan menggunakan jaring kemudian dimusnahkan; dan Pengendalian dengan insektisida berbahan aktif BPMC, betasiflutrin, deltametrin, klorprifos, sipermetrin, tiodikarb, MIPC, fipronil, dan karbaril.
  


REFERENSI
  • Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2007. Pedoman Pengendalian OPT Serealia. Departemen Pertanian. Jakarta.
  • Grichanov, Igor Yakovlevich. 2009. Pests. Locusta migratoria L. - Migratory Locust, Asiatic Locust. ©2003-2009 Project: Interactive Agricultural Ecological Atlas of Russia and Neighboring Countries. Economic Plants and their Diseases, Pests and Weeds. http://www.agroatlas.ru/en/content/pests/Locusta_migratoria/. Diakses pada Tanggal 30 Januari 2011.
  • Sitompul, Stepanus S., 2005. Pengendalian Hama Belalang Kembara (Locusta migratoria) dengan Menggunakan Gelombang Ultrasonik di Kalimantan Barat. Suatu Penelitian Eksperimental Dengan Pendekatan Biofisika. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
  • Walker, Annette, The Reed Handbook of Common New Zealand Insects, Reed Books, 2000 ISBN 0-7900-0718-5.

TIPE-TIPE LARVA SERANGGA

Larva Serangga Notodentidae (Photo oleh: Yos F. da Lopes. Ditemukan pada tanaman pohon di Kawasan Merapi)

TIPE LARVA BERDASARKAN JUMLAH KAKI
  1. Apoda, yaitu larva yang tidak berkaki. Larva apoda biasanya bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya (Gambar 1).
  2. Oligopoda, yaitu larva yang memiliki hanya 3 pasang kaki pada thoraks, misalnya, larva kumbang koksi (Gambar 2).
  3. Polipoda, yaitu larva yang berkaki lebih dari 3 pasang, baik pada thoraks (kaki sesungguhnya) maupun pada ruas abdomen (prolegs atau kaki semu), misalnya, pada kebanyakan larva ordo Lepidoptera seperti ulat jengkal (Gambar 3).
TIPE LARVA BERDASARKAN BENTUK TUBUH
  1. Campodeiform, yaitu larva yang bentuk tubuh pipih (gepeng); kaki panjang; biasanya memiliki cerci dan caudal filaments (Chu, 1949); kepala prognathous; umumnya sangat aktif dan berperan sebagai predator; misalnya, larva ordo Coleoptera seperti kumbang koksi (Coccinelidae, Gambar 2A), Dytiscidae, Carbidae, Staphylinidae.
  2. Scarabeiform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical dan membentuk huruf C; kepalanya hypognathous dan terbentuk dengan jelas; memiliki kaki pada toraks dan pendek; tidak memiliki proleg, (Chu, 1949); misalnya, adalah larva kumbang tanah (Coleoptera: Scarabeidae, Gambar 2B), Bruchidae, Ptinidae, Anobiidae.
  3. Carabiform, yaitu larva yang bentuknya merupakan modifikasi larva campodeiform, yang mana tubuhnya gepeng tetapi kakinya lebih pendek dan umumnya tidak memilki caudal filaments (Chu, 1949), misalnya, larva ordo Coleoptera seperti Chrysomelidae (Gambar 4), Lampyridae, Carabidae, Melyridae.
  4. Elateriform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical-memanjang serta dinding tubuhnya tebal dan keras; setae jauh berkurang; kaki biasanya ada tapi pendek (Chu, 1949); kepala prognathous; dan umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, Tenebrio molitor (Coleoptera: Tenebrionidae), Elateridae (Gambar 2C), Alleculidae, Ptilodactylidae, dan Eurypogonidae.
  5. Platyform, yaitu larva dengan bentuk tubuh pendek, lebar dan gepeng (pipih); kakinya sangat pendek, inconspicuous atau absen (Chu, 1949); kepala hyphognathous; beberapa spesies mempunyai spines (duri) yang beracun; umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, larva Limacoid (Lepidoptera: Limacodidae, Gambar 5).
  6. Eruciform, yaitu larva dengan bentuk cylindrical dengan ruas tubuh yang sangat jelas; memiliki kaki pada toraks dan proleg;  kepala hypognathous dan jelas terbentuk (Chu, 1949); kakinya sangat pendek; antena sangat kecil; misalnya, larva ordo Lepidoptera (Gambar 3A, 3B, 3C), Tenthredinidae, Mecoptera. (lihat 1,2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9)
  7. Vermiform, yaitu larva dengan bentuk tubuh yang menyerupai cacing (wormlike), cylindrical, memanjang (elongate), tanpa lokomotif appendages (Chu, 1949); apodous sehingga bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya; tidak bermata; misalnya,  sebagian besar larva ordo Diptera (Tephritidae, Gambar 1A), larva woodboring beetles, beberapa sawflies dan flea beetles genus Systena dan Epitrix, larva Hymenoptera (Formicidae, Gambar 1B dan Vespidae, Gambar 1C).

REFERENSI
  • Chen, Sicien. 1946. Evolution of Insect Larva. Transactions of the Royal Entomological Society of London 1946. 97:381-404. http://www.uky.edu/Classes/ENT/660/chen.htm. Diakses pada Tanggal 29 Januari 2011.
  • Chu, H.F. 1949. How to Know the Immature Insects. WM. C. Brown Company Publishers. Dubugue, Iowa.
  • Stehr, Frederick W. 1991. Immature Insects. Copyright ©1991 by Kendall/Hunt Publishing Company. Library of Congress Catalog Card Number: 85-81922 ISBN 0-8403-4639-5. 2460 Kerper Buolevard P.O. Box 539 Dubuque, Iowa 52004-0539.