04 Maret 2011

ALIMENTARY CANAL

Sistem pencernaan serangga adalah sistem tertutup, berupa tabung tertutup yang memanjang sepanjang tubuhnya, dan disebut sebagai “alimentary canal”. Alimentary canal hanya memungkinkan makanan masuk melalui mulut, dan kemudian akan diproses saat berpindah menuju anus. Saluran pencernaan serangga memiliki bagian khusus sebagai penghancur dan penyimpanan makanan, produksi enzim dan penyerapan hara (McGavin, 2001; Triplehorn & Johnson, 2005). Pada kebanyakan serangga, alimentary canal terbagi menjadi tiga wilayah fungsional: foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum). Selain saluran pencernaan, serangga juga memiliki pasangan kelenjar ludah (salivary glands);  reservoir saliva (saliva reservoir); saluran saliva (salivary ducts); salivarium; hypopharynx (Meyer 2009).

Gambar 1. Alimentary Canal pada Belalang (Orthoptera: Acrididae): A. esophagus; B. Crop; C. proventriculus; D. gastric caecum; E. ventriculus; F. Malphigian tubule; G. Ileum; H. colon; I. rectum; J. rectum pads; K. anus

Pada serangga,  pengolahan makanan terjadi dalam tabung saluran pencernaan yang disebut “alimentary canal” yang memanjang melalui tubuh dari mulut hingga anus. Alimentary  canal ini terbagi atas tiga wilayah fungsional, yaitu foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum). Alimentary  canal ini terbagi atas tiga wilayah fungsional, yaitu foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum).

Stomodaeum (Foregut)

Mulut (mouth, Gambar 2A) serangga adalah katup berotot (sphincter) yang merupakan bagian terdepan dari foregut. Makanan di buccal cavity (Gambar 2B) tersedot ke dalam mulut dan masuk ke pharynx (Gambar 2C) oleh kerja kontraktil cibarial muscles, Gambar 2D). Dari pharynx, makanan masuk ke esophagus (Gambar 1A dan 2E) dengan cara peristaltik (kontraksi ritmis otot dinding usus). Esofagus merupakan sebuah tabung sederhana yang menghubungkan pharynx dengan crop (Gambar 1B; 2F), organ penyimpanan makanan. Makanan tetap berada dalam crop hingga dapat diproses oleh bagian alimentary canal selanjutnya. Sementara berada dalam crop, beberapa pencernaan mungkin terjadi sebagai akibat enzim saliva yang ditambahkan dalam rongga bukal dan/atau enzim lainnya yang dikeluarkan dari midgut.
Gambar 2. Bagian-bagian Stomodeum (foregut): A. mouth; B. buccal cavity; C. pharynx; D. cibarial muscles; E. esophagus; F. crop; G. proventriculus; H. stomodeal valve (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)

Pada beberapa serangga, crop membuka secara posterior  mencapai proventriculus (Gambar 1C dan 2G). Organ ini memiliki alat seperti gigi untuk menggiling dan melumatkan partikel makanan. Stomodeal valve (Gambar 2H), sejenis otot sphincter yang terletak tepat di belakang proventrikulus, mengatur aliran makanan dari stomodeum ke mesenteron.

Mesenteron (Midgut)

Midgut berawal tepat setelah katup stomodeal. Di belakang stomodeal valve, tonjolan seperti jari (biasanya bisanya berjumlah 2 hingga 10) yang disebut gastric caecum (Gambar 1D; dan 3A).

Gambar 3. Bagian-bagian Mesenteron (midgut):  A. gastric caecae; B. ventriculus; C. cardial epithelium; D. peritrophic membrane; E. pyloric valve (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)
Bagian selanjutnya dari midgut  disebut ventriculus (Gambar 1E dan 3B) sebagai tempat pencernaan enzimatik makanan dan penyerapan nutrisi. Midgut dilapisi dengan membran semipermeabel yang dikeluarkan oleh sekelompok sel, cardial epithelium, Gambar 3C), yang berada tepat di belakang stomodeal valve. Membran peritrophic (perithropic membrane, Gambar 3D) terdiri dari fibril kitin yang tertanam dalam matriks protein-karbohidrat. Ujung posterior  midgut diakhiri dengan otot sphincter berupa katup pylorus (pyloric valve, Gambar 3E), yang mengatur aliran material dari mesenteron ke proctodeum.

Proctodaeum (Hindgut)

Proctodeum diawali dengan puluhan hingga ratusan Malphigian tubules (Gambar 1F dan 4A) yang  memanjang  di hampir seluruh rongga abdomen, berfungsi sebagai organ ekskretoris, membebaskan limbah nitrogen beracun (terutama ion amonium, NH4+) dari hemolymph. 

Gambar 4. Bagian-bagian Proctodeum (hindgut): A. Malpighian tubules (warna merah); B. ileum; C. colon; D. rectum; E. rectal pads; F. anus (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)

Bagian hindgut selanjutnya berperan penting dalam homeostasis dengan mengatur penyerapan air dan garam dari produk limbah dalam alimentary canal. Pada beberapa serangga (seperti belalang), hindgut terdiri atas ileum (Gambar 1G dan 4B), colon (Gambar 1H dan 4C), dan rectum (Gambar 1I dan 4D). Efisiensi penggunaan air difasilitasi oleh enam bantalan dubur (rectal pads, Gambar IJ dan 4E) yang tertanam di dinding rektum. Organ-organ ini membebaskan lebih dari 90% air dari pelet tinja sebelum keluar dari tubuh melalui anus (Gambar 1K dan 4F).


Referensi:
  • Gullan, D. J. and Cranston, P. S. 2005. The Insects: An Outline of Entomology Blackwell Publishing Ltd, UK.
  • McGavin, G. C. 2001. Essential Entomology; An order by order introduction. Oxford University Press, New York.
  • Meyer, John R. 2009. General Entomology - Digestive and Excretory Systems. Department of Entomology NC State University. Last Updated:   8 April 2009. http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425/library/tutorials/internal_anatomy/digestive.html. Diakses pada 02 February 2011.
  • Triplehorn, C. A. and Johnson, N. F. 2005. Borror and DeLong’s Introduction to the Study of Insects (7th Ed). Brooks/Thomson Cole USA.

TETRIGIDAE DAN TETTIGONIIDAE

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur



Tetrigidae dan Tettigoniidae adalah dua family dari family-famili yang masuk dalam ordo Orthoptera. Perbedaan antara Tetrigidae dan Tettigoniidae terletak pada karakteristik pronotum dan keberadaan organ auditory dan stridulatory. Pada Tetrigoniidae, pronotum kecil memanjang, meruncing, yang dapat menutupi sayap (jika terdapat sayap), dan melampaui ujung perut (Borror et al., 1989; Allaby, 1999a; Troy, 2004a); organ auditory dan stridulatory absen (Troy, 2004a). Sedangkan, pada Tettigoniidae atau Orthoptera lainnya, pronotum pendek dan tidak melingkupi baik pada abdomen maupun sayap (Grimaldi & Engel, 2005); organ auditory berkembang dengan baik (Allaby, 1999b).



Famili Tetrigidae (Order Orthoptera, Suborder Caelifera):
  • Tetrigidae (groundhoppers, grouse locusts, pygmy locusts; order Orthoptera, suborder Caelifera) adalah family dari belalang kecil, berwarna kusam yang memiliki karakteristik yang utama adalah pronotum kecil memanjang, meruncing, yang dapat menutupi sayap (jika terdapat sayap), dan melampaui ujung perut (Borror et al., 1989; Allaby, 1999a; Troy, 2004); menyerupai bantalan (pad-like), kadang-kadang tidak ada, mungkin terpapar atau ditutupi oleh pronotum depan. Orthoptera lainnya memiliki pronotum pendek dan tidak melingkupi baik pada abdomen maupun sayap. Tarsi tengah Tetrigidae bersegmen 2, tarsi belakang dengan 3 segmen (rumus 2-2-3);  pada beberapa jenis, tibiae belakang meluas (untuk berenang); spesies tunggal dapat bersayap pendek dan bersayap panjang, atau tidak bersayap sama sekali;  organ auditory dan stridulatory absen (Troy, 2004a).
  • Ukurannya kurang dari 20 mm panjang (Borror et al, 1989; Troy, 2004a) atau sekitar 6-16 mm panjang tubuhnya (Troy, 2004a).
  • Warna dan pola, bahkan dalam satu spesies, bervariasi; seringkali sangat seksual dimorfik, baik dalam ukuran (betina biasanya lebih besar) dan warna; beberapa spesimen tampak hijau karena ditutupi algae (Troy, 2004a). Akan tetapi, umumnya, Tetrigidae memiliki warna yang tersamarkan atau tidak jelas (Grimaldi & Engel, 2005). Beberapa spesies memiliki pronota yang membesar, meniru daun, batu atau ranting (Preston-Mafham, 1990).
  • Tetrigids biasanya ditemukan di tanah/daerah lembab, dan memakan alga atau lumpur kaya bahan organik (Allaby, 1999a); hidup di dekat air, seperti kolam dan sungai, kadang-kadang ditemukan di habitat kering, hutan-hutan, ladang tua, daerah berpasir dengan lumut; memakan akar tanaman atau bibit, lumut, jamur, ganggang, kotoran organik; beberapa belalang dewasa dilaporkan melompat ke dalam air dan berenang menjauh (di bawah air) sebagai mekanisme melarikan diri (Troy, 2004a).
  • Di seluruh dunia, terdapat sekitar 27 genus dan 1400 spesies (Troy, 2004a),  walaupun 50 spesies Palaearctic (Allaby, 1999a). Terdaftar 56 spesies di Papua: 13 spesies endemic Papua Indonesia, 26 PNG, dan 14 New Guinea,  spesies yang belum diketahui secara pasti dari Papua Indonesia adalah berwarna abu-abu (Tumbrinck, 2010).

Famili Tettigoniidae (Order Orthoptera, Suborder Ensifera):
  • Tettigoniidae (bush katydids, cone-headed grasshoppers, katydids, listroceline grasshoppers, long-horned grasshoppers, meadow grasshoppers, pine-tree katydids, shield-backed grasshoppers; order Orthoptera, suborder Ensifera) adalah family ensiferans di mana komunikasi auditory berkembang dengan baik (Allaby, 1999b). Ovipositor biasanya pipih dan berbentuk seperti pedang;  kebanyakan spesies fitofag, namun ada juga yang predator pada serangga lain (Foltz, 1998; Allaby, 1999b; Gwynne & Glenn, 2002; Coitins, 2004).
  • Terdapat lebih dari 7.000 spesies dalam dari 1.000 genus, ditemukan di semua benua kecuali Antartika; sayap diletakkan secara vertical menutupi tubuh, antena yang sangat panjang dan menyerupai benang, sering melewati ujung abdomen; tarsi dengan 4 segmen (rumus 4-4-4); tympana (organ pendengaran) terdapat pada tibiae depan (Foltz, 1998; Coitins, 2004).
  • Tidak seperti belalang dan jangkrik, baik jantan maupun betina menghasilkan suara dengan menggosok forewings (sayap depannya). Katydids dapat terbang dalam jarak pendek ketika terancam, tetapi lebih suka melompat dan memanjat.
  • Panjang tubuhnya dapat mencapai 1,5 sampai 2.5 inci  (38-64 mm), tetapi beberapa spesies tropis melebihi 6 inci (15 cm). Kebanyakan berwarna hijau dan memiliki sayap menyerupai daun, sehingga sulit dideteksi oleh predatornya.
  • Memiliki kaki belakang yang panjang dan kuat, dan empat sayap yang terlipat memanjang ketika beristirahat. Sayap menyerupai film dan memanjang melampaui tubuh.
  • Dapat ditemukan di hutan, semak, atau lahan dengan banyak semak belukar atau pepohonan,  menghabiskan sebagian besar waktunya di puncak pohon dimana terdapat banyak daun.



Referensi:
  • Allaby, Michael. 1999a. "Tetrigidae." A Dictionary of Zoology. Encyclopedia.com. http://www.encyclopedia.com/doc/1O8-Tetrigidae.html. Diakses pada Tanggal 1 February 2011.
  • Allaby, Michael. 1999b. "Tettigoniidae." A Dictionary of Zoology. Encyclopedia.com. http://www.encyclopedia.com/doc/1O8-Tettigoniidae.html. Diakses pada 01 Februay 2011.
  • Borror DJ, Tripplehorn CA, Johnson NF. 1989.  An Introduction to the Study of Insects, 6th edition. Harcourt Brace College Publishers. New York. pg 213
  • Cotinis. 2004. Family Tettigoniidae – Katydids. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by Robin McLeod, v belov. Last updated 20 September, 2010 - 12:38am. Copyright © 2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/164. Diakses pada 01 February 2011.
  • Foltz, John L. 1998. Orthoptera: Tettigoniidae. ENY 3005 Family Identification. University of Florida, Dept of Entomology & Nematology, 29 Sep 1998. Modified 21 May 2004. http://entomology.ifas.ufl.edu/foltz/eny3005/lab1/Orthopteroid/Tettigoniid.htm. Diakses pada Tanggal 01 February 2011.
  • Gwynne, Darryl T. and Glenn K. Morris. 2002. Tettigoniidae. Katydids, Long-horned Grasshoppers and Bushcrickets. Version 26 November 2002. http://tolweb.org/Tettigoniidae/13298/2002.11.26 in The Tree of Life Web Project, http://tolweb.org/. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Troy Bartlett. 2004a.  Family Tetrigidae - Pygmy Grasshoppers. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by cotinis. Last updated 9 October, 2008 - 8:59am. Copyright ©2003-2011 Iowa State University http://bugguide.net/node/view/106. Diakses pada Tanggal 01 February 2011.
  • Tumbrinck, Josef. 2010. The Pygmy Grasshoppers (Orthoptera: Tetrigidae) of Papua Indonesia. Updated on 30 December 2010. Papua-Insects.nl. The Papua Insects Foundation. http://www.papua-insects.nl/insect%20orders/Orthoptera/Tetrigidae/Tetrigidae.htm. Diakses pada Tanggal 1 February 2010.

HEMIPTERA (HETEROPTERA) DAN HOMOPTERA

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Secara historis, Hemiptera dan Homoptera adalah dua ordo serangga yang dibedakan berdasarkan perbedaan dalam struktur sayap dan posisi rostrum yang kemudian digabungkan menjadi ordo Hemiptera, dengan Heteroptera/Hemiptera dan Homoptera sebagai subordonya (Webster's Online Dictionary, 2011). Anantomi dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. A. Anatomi Heteroptera. B. Homoptera (Sumber: Bantock & Botting, 2010)

Heteroptera:
  • Serangga subordo Heteroptera dikenal dengan “true bugs”.
  • Nama Heteroptera, berasal dari bahasa Yunani, yaitu hetero yang berarti “berbeda atau tidak sama” dan ptera yang berarti “sayap” (Meyer, 2009a), yang merujuk pada tekstur sayap depannya (hemelytra) yang sangat khas, dimana bagian basalnya tebal atau keras (leathery) dan bagian apikalnya membranous (Maddison, 1995; McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a).
  • Saat istirahat, sayap ini saling tumpang tindih satu sama lain sepanjang punggungnya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a), membentuk "X" (Meyer, 2009a).
  • Serangga ini memiliki alat mulut penusuk-penghisap (beak atau proboscis), muncul dari bagian ventral kepala prognathous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a) atau anterior kepala hypognathous (Meyer, 2009a) dan umumnya diarahkan melengkung di bagian ventral posterior saat tidak sedang makan atau digunakan (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a). Proboscis lebih panjang dari proboscis Homoptera dan besar, terdiri dari 3-4 segmen, dengan diameter tidak lebih dari 0,1 mm saat belum berisi makanan dan air liur (Meyer, 2009a).
  • Antena kecil dan tipis (slender) dengan 4-5 segmen; pronotum biasanya besar, trapesium atau bundar; triangular scutellum terdapat belakang pronotum; tarsi 2 - 3 segmen; pradewasa mirip dewasa, selalu tidak bersayap (Meyer, 2009a).
Homoptera:
  • Serangga suborder Homoptera dikenal dengan nama “leafhoppers, planthoppers, treehoppers, cicadas, aphids, psyllids, whiteflies, scale Insects” dan lain-lain (Meyer, 2009b).
  • Nama Homoptera, berasal dari bahasa Yunani, yaitu homo yang berarti “seragam atau sama” dan ptera yang berarti “sayap”, mengacu pada tekstur sayap depannya yang seragam yang seragam atau membranous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b; WordNet, 2011). Beberapa Homoptera tidak memiliki sayap sekunder (Meyer, 2009b).
  • Saat istirahat, sayapnya tidak tumpang tindih bila dilipat (WordNet, 2011), diletakkan atau dilipat menutupi dorsal atau punggung abdomennya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b) atau dengan dengan salah satu apical sedikit tumpang tindih terhadap apical lainnya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b).
  • Kepala hypognathous atau opisthog-nathous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b), beak atau proboscis muncul dari bagian ventral posterior kepala (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b) atau bahkan dari prosternum (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b) dan lebih pendek daripada proboscis subordo Heteroptera (Meyer, 2009b); gula membranous atau absen (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b).
  • Antene kecil dan tipis (slender) atau menyerupai bulu; tarsi memiliki 1-3 ruas; pradewasa mirip dengan dewasa, selalu tidak bersayap (Meyer, 2009b).


Referensi:
  • Bantock, Tristan & Botting, Joseph.  2010. British Bug. An Online Identification Guide to UK Hemiptera. http://www.britishbugs.org.uk/bug_bits.html. Diakses pada Tanggal 31 Januari 2011.
  • Borror DJ, Tripplehorn CA, Johnson NF. 1989.  An Introduction to the Study of Insects, 6th edition. Harcourt Brace College Publishers. New York. pg 213

06 Februari 2011

PICTORIAL MORPHOLOGY OF IMMATURE INSECTS

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Seperti serangga pada umumnya, ngengat (moth), kupu-kupu (butterfly), dan skippers memiliki eksoskeleton dan tungkai bersendi, tetapi tidak seperti serangga lainnya, ketiga serangga ini memiliki sayap membranous (berselaput) dan ditutupi sisik berpigmen, oleh karena itu, dalam taksonomi disebut "Lepidoptera," atau "sayap bersisik." Ngengat, biasanya memiliki pola dan warna yang polos, aktif pada malam hari. Kupu-kupu, memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari. Skippers, berada pada tahap peralihan dari karakteristik baik ngengat maupun kupu-kupu. Gabungan ngengat, kupu-kupu, dan skippers mencapai dua ratus ribu spesies yang tersebar di seluruh dunia dan lebih dari 10.000 spesies terdapat di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko utara. Spesies ngengat lebih banyak daripada gabungan antara spesies kupu-kupu dan skippers, dengan perbandingan sekitar 8:1. Kupu-kupu dan skippers adalah kelompok monofiletik dalam Lepidoptera, tapi "ngengat" adalah kelompok paraphyletic (Troy, 2004c).



Ngengat (moth):
  • Saat istirahat, sayap diletakkan secara horizontal atau menempel di atas/di sekitar abdomen; jarang, sayap diletakkan bersama-sama secara vertikal di atas tubuh, seperti pada kupu-kupu (Troy, 2004b).
  • Dewasa (imagos) biasanya memiliki antenna berbulu (feathery), menebal (thickened), atau seperti benang, tidak memiliki knob atau hook, seperti pada kupu-kupu dan skippers, dan kebanyakan aktif pada malam hari (Troy, 2004b).
Antenne pada Ngengat Jantan (Lepidoptera, tipe Plumose): berbulu (feathery, A); ujung tanpa knob atau hook (B). Bagian-bagian antenna: scape (1 = ruas pertama/dasat antenne), pedicel (2 = ruas kedua antenne), flagella ( 3 = ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Beberapa spesies memiliki pola sayap berwarna-warni dan aktif pada siang hari. Ngengat Tegeticula yuccasella, memiliki kekhasan dengan fitur warna yang sederhana - putih, coklat dan coklat keabu-abuan (Jay, 1996).
  • Ketika berkepompong di atas tanah, pupa memiliki kokon yang terbuat dari sutra, sering dikombinasikan dengan bahan-bahan alam lainnya seperti daun atau bulu tubuh mereka sendiri. Kebanyakan larvanya berkepompong dalam tanah (Troy, 2004c).
  • Contoh: Owlet Moth - Ponometia candefacta Hodges

Kupu-kupu (butterfly):
  • Saat istirahat, sayapnya diletakkan menyebar ke arah atas atau posisi vertikal terhadap tubuhnya (Jay, 1996; Troy, 2004c).
  • Memiliki antena yang diakhiri dengan knob.
Antenne pada Kupu-kupu (Lepidoptera, tipe Clavate): ujung dengan knob (A). B = flagella (ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari
  • Kupu-kupu berkepompang telanjang (tanpa pelindung)  yang dikenal sebagai chrysalis (Troy, 2004c).
  • Contoh: American Painted Lady Butterfly - Vanessa virginiensis.

Skippers:
  • Skippers, terbang dengan cara yang tidak menentu (erratic flight), biasanya meletakkan sayap pendeknya, seperti kupu-kupu, dalam posisi vertikal dekat di atas tubuhnya (Jay, 1996) tetapi pada sudut yang sedikit berbeda sehingga kedua pasang sayapnya mudah dilihat (Jay, 1996; Smith, 2003; Troy, 2004c); kebanyakan aktif pada siang hari (Troy, 2004c).
  • Memiliki antena yang halus, bukan ringan berbulu (Smith, 2003; Troy, 2004c), yang berakhir dengan knob yang sering memiliki tambahan seperti pengait (Jay, 1996) dan mengait ke belakang, bukan mengumpul di ujungnya (Smith, 2003).
Antenne pada Little Glassywing Skipper Pompeius verna (Lepidoptera, tipe Clavate): ujung antenne dengan knob (A) dengan tambahan hook (B). C = flagella (ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Memiliki berbagai warna dan pola, terkadang bervariasi pada setiap individu dalam suatu spesies (Jay, 1996). Sikpper memiliki otot, tubuh yang lebih gemuk bila dibandingkan dengan kupu-kupu yang tubuhnya lebih ramping.
  • Memiliki family tersendiri, Hesperiidae, ordo Lepidoptera; terdapat sekitar 3.500 spesies (Smith, 2003). 
  • Contoh: Ocola Skipper Butterfly - Panoquina ocola

Referensi:
  • Jay, Sharp. 1996. The Moth, the Butterfly and the Skipper. How to Tell Them Apart. Copyright ©1996-2011 DesertUSA.com and Digital West Media, Inc. http://www.desertusa.com/animals/moth-butterfly-skipper.html. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Smith, S.E. 2003. What are Skippers?  Edited by Bronwyn Harris. Copyright © 2003 - 2011, conjecture corporation. http://www.wisegeek.com/what-are-skippers.htm. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Troy Bartlett, 2004b.  Moths. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by cotinis, Steve Nanz, John VanDyk, Beatriz Moisset, Robin McLeod, Lynette, Tony-2, Chris Wirth, Chuck Entz, J.D. Roberts, Maury Heiman, JohnMaxwell22, Abigail Parker. Last updated 23 October, 2010 - 8:23am. Copyright©2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/82#etymology. Diakses pada Tanggal 3 February 2011.
  • Troy Bartlett. 2004c.  Order Lepidoptera - Butterflies and Moths. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by jvandyk, cotinis, Hannah Nendick-Mason, John VanDyk, Beatriz Moisset, Robin McLeod, Lynette, Chris Wirth, Chuck Entz, ceiseman, v belov. Last updated 20 October, 2010 - 9:32am. Copyright©2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/57. Diakses pada 3 Februari 2011. 

04 Februari 2011

PERBEDAAN ANTARA NGENGAT, KUPU-KUPU DAN SKIPPERS

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Seperti serangga pada umumnya, ngengat (moth), kupu-kupu (butterfly), dan skippers memiliki eksoskeleton dan tungkai bersendi, tetapi tidak seperti serangga lainnya, ketiga serangga ini memiliki sayap membranous (berselaput) dan ditutupi sisik berpigmen, oleh karena itu, dalam taksonomi disebut "Lepidoptera," atau "sayap bersisik." Ngengat, biasanya memiliki pola dan warna yang polos, aktif pada malam hari. Kupu-kupu, memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari. Skippers, berada pada tahap peralihan dari karakteristik baik ngengat maupun kupu-kupu. Gabungan ngengat, kupu-kupu, dan skippers mencapai dua ratus ribu spesies yang tersebar di seluruh dunia dan lebih dari 10.000 spesies terdapat di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko utara. Spesies ngengat lebih banyak daripada gabungan antara spesies kupu-kupu dan skippers, dengan perbandingan sekitar 8:1. Kupu-kupu dan skippers adalah kelompok monofiletik dalam Lepidoptera, tapi "ngengat" adalah kelompok paraphyletic (Troy, 2004c).



Ngengat (moth):
  • Saat istirahat, sayap diletakkan secara horizontal atau menempel di atas/di sekitar abdomen; jarang, sayap diletakkan bersama-sama secara vertikal di atas tubuh, seperti pada kupu-kupu (Troy, 2004b).
  • Dewasa (imagos) biasanya memiliki antenna berbulu (feathery), menebal (thickened), atau seperti benang, tidak memiliki knob atau hook, seperti pada kupu-kupu dan skippers, dan kebanyakan aktif pada malam hari (Troy, 2004b).
Antenne pada Ngengat Jantan (Lepidoptera, tipe Plumose): berbulu (feathery, A); ujung tanpa knob atau hook (B). Bagian-bagian antenna: scape (1 = ruas pertama/dasat antenne), pedicel (2 = ruas kedua antenne), flagella ( 3 = ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Beberapa spesies memiliki pola sayap berwarna-warni dan aktif pada siang hari. Ngengat Tegeticula yuccasella, memiliki kekhasan dengan fitur warna yang sederhana - putih, coklat dan coklat keabu-abuan (Jay, 1996).
  • Ketika berkepompong di atas tanah, pupa memiliki kokon yang terbuat dari sutra, sering dikombinasikan dengan bahan-bahan alam lainnya seperti daun atau bulu tubuh mereka sendiri. Kebanyakan larvanya berkepompong dalam tanah (Troy, 2004c).
  • Contoh: Owlet Moth - Ponometia candefacta Hodges

Kupu-kupu (butterfly):
  • Saat istirahat, sayapnya diletakkan menyebar ke arah atas atau posisi vertikal terhadap tubuhnya (Jay, 1996; Troy, 2004c).
  • Memiliki antena yang diakhiri dengan knob.
Antenne pada Kupu-kupu (Lepidoptera, tipe Clavate): ujung dengan knob (A). B = flagella (ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari
  • Kupu-kupu berkepompang telanjang (tanpa pelindung)  yang dikenal sebagai chrysalis (Troy, 2004c).
  • Contoh: American Painted Lady Butterfly - Vanessa virginiensis.

Skippers:
  • Skippers, terbang dengan cara yang tidak menentu (erratic flight), biasanya meletakkan sayap pendeknya, seperti kupu-kupu, dalam posisi vertikal dekat di atas tubuhnya (Jay, 1996) tetapi pada sudut yang sedikit berbeda sehingga kedua pasang sayapnya mudah dilihat (Jay, 1996; Smith, 2003; Troy, 2004c); kebanyakan aktif pada siang hari (Troy, 2004c).
  • Memiliki antena yang halus, bukan ringan berbulu (Smith, 2003; Troy, 2004c), yang berakhir dengan knob yang sering memiliki tambahan seperti pengait (Jay, 1996) dan mengait ke belakang, bukan mengumpul di ujungnya (Smith, 2003).
Antenne pada Little Glassywing Skipper Pompeius verna (Lepidoptera, tipe Clavate): ujung antenne dengan knob (A) dengan tambahan hook (B). C = flagella (ruas ketiga antenne dan seterusnya).
  • Memiliki berbagai warna dan pola, terkadang bervariasi pada setiap individu dalam suatu spesies (Jay, 1996). Sikpper memiliki otot, tubuh yang lebih gemuk bila dibandingkan dengan kupu-kupu yang tubuhnya lebih ramping.
  • Memiliki family tersendiri, Hesperiidae, ordo Lepidoptera; terdapat sekitar 3.500 spesies (Smith, 2003). 
  • Contoh: Ocola Skipper Butterfly - Panoquina ocola

Referensi:
  • Jay, Sharp. 1996. The Moth, the Butterfly and the Skipper. How to Tell Them Apart. Copyright ©1996-2011 DesertUSA.com and Digital West Media, Inc. http://www.desertusa.com/animals/moth-butterfly-skipper.html. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Smith, S.E. 2003. What are Skippers?  Edited by Bronwyn Harris. Copyright © 2003 - 2011, conjecture corporation. http://www.wisegeek.com/what-are-skippers.htm. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Troy Bartlett, 2004b.  Moths. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by cotinis, Steve Nanz, John VanDyk, Beatriz Moisset, Robin McLeod, Lynette, Tony-2, Chris Wirth, Chuck Entz, J.D. Roberts, Maury Heiman, JohnMaxwell22, Abigail Parker. Last updated 23 October, 2010 - 8:23am. Copyright©2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/82#etymology. Diakses pada Tanggal 3 February 2011.
  • Troy Bartlett. 2004c.  Order Lepidoptera - Butterflies and Moths. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by jvandyk, cotinis, Hannah Nendick-Mason, John VanDyk, Beatriz Moisset, Robin McLeod, Lynette, Chris Wirth, Chuck Entz, ceiseman, v belov. Last updated 20 October, 2010 - 9:32am. Copyright©2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/57. Diakses pada 3 Februari 2011.

MOLTING PADA SERANGGA: BAGAIMANA ITU TERJADI?

ALASAN - PROSES - PENGATURAN DAN PENGENDALIAN HORMON

Yos F. da Lopes - Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Molting atau sebut saja “pergantian kulit” adalah suatu proses yang kompleks dan dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu dalam tubuh serangga. Molting meliputi  lapisan kutikula dinding tubuh, lapisan kutikula trakea, foregut, hindgut, dan struktur endoskeleton (McGavin 2001; Triplehorn & Johnson, 2005). Molting dapat terjadi sampai tiga atau empat kali, bahkan pada beberapa serangga tertentu, molting dapat terjadi sampai lima puluh kali atau lebih selama hidupnya (McGavin, 2001).

Mengapa serangga perlu melakukan molting atau pergantian kulit?

Serangga, termasuk arthropda lainnya (kalajengking, udang, lobster, dan lain-lain), memiliki kerangka luar yang disebut dengan eksoskeleton. Dalam pertumbuhannya, serangga akan tiba pada titik dimana otot-otot tubuhnya tidak cukup kuat untuk mengangkat massa eksoskeletonnya. Exoskeleton ini menutupi sekeliling tubuhnya, tetapi tidak dapat tumbuh. Jadi, tubuh serangga mengalami pertumbuhan (penambahan volume dan massa) tetapi eksoskeletonnya tetap pada konstruksinya atau tidak mengalami pertumbuhan. Akibatnya, serangga harus melakukan molting beberapa kali selama hidupnya agar tetap eksis dan “survive” atau bertahan hidup untuk meneruskan generasinya, suatu bentuk adapatasi yang tidak hanya rumit tetapi juga sungguh luar biasa dan mengagumkan.

Bagaimana proses molting ituterjadi?

Proses molting pada serangga, setidaknya, melewati tiga tahap, yaitu apolysis, ecdysis, dan sklerotinisasi. Ketiga tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 1)
  1. Apolysis ― Pelepasan kutikula lama. Pada tahap ini, hormon molting dilepaskan ke dalam haemolymph dan kutikula lama terpisah dari sel epidermis yang berada di bawahnya. Ukuran epidermis akan meningkat karena mitosis dan kemudian kutikula baru dihasilkan. Enzim yang disekresikan oleh sel epidermis mencerna endokutikula lama.
  2. Ecdysis ― Pembentukan kutikula baru. Tahap ini dimulai dengan pemisahan kutikula lama, biasanya dimulai pada garis tengah sisi dorsal thoraks. Pemisahan terjadi,terutama, karena tekanan haemolymph yang dipaksa masuk menuju thoraks oleh kontraksi otot abdomen yang disebabkan karena serangga menerima udara atau air. Setelah ini, serangga akan  keluar dari kutikula lama.
  3. Sclerotinisasi ― Pengerasan kutikula baru. Kutikula baru yang baru terbentuk, sangat lembut dan pucat sehingga ini merupakan saat yang sangat rentan bagi serangga. Dengan demikian, serangga harus melakukan pengerasan (hardening) terhadap kutikula baru tersebut. Sklerotinisasi terjadi setelah satu atau dua jam, dimana eksokutikula akan mengeras dan menjadi gelap. Pada serangga dewasa, sayap akan berkembang karena kekuatan haemolymph yang masuk melalui vena sayap (McGavin, 2001; Triplehorn & Johnson, 2005).
 Apa yang berperan dalam molting serangga?

Jawaban yang paling mungkin atau pasti adalah “hormon”. Hormon adalah sinyal kimia (chemical signals) atau pembawa pesan kimia (chemical messenger) yang dikirim dari sel dalam bagian tubuh tertentu ke sel-sel dalam bagian tubuh lainnya pada individu organisme yang sama.
  • Ketika serangga, pada pertumbuhannya, tiba waktunya untuk mendapatkan eksoskeleton yang baru, input sensorik dari tubuh serangga mengaktifkan sel-sel saraf (neurosecretory cells)  tertentu dalam otak. Sel saraf ini menanggapinya dengan mengeluarkan hormon otak yang memicu corpora cardiaca untuk melepaskan prothoracicotropic hormone (PTTH) ke dalam sistem peredaran darah. PTTH selanjutnya merangsang kelenjar prothoracic (prothoracic glands) untuk mengeluarkan hormone molting, yaitu ecdysteroids atau 20-hydroxyecdysone steroids (Meyer, 2005). Dari sinilah proses molting mulai berlangsung, diawali dengan peningkatan titer 20HE dan diakhiri dengan penurunan titer 20HE dan pelepasan hormon eclosion (Klowden, 2007).
Bagaimana pengaturan atau pengendalian hormon dalam molting serangga? 

Molting pada serangga diatur oleh hormone molting, 20-hydroxyecdysone steroids (ecdysterone atau ecdysteroids, selanjutnya disingkat dengan 20HE), JH-sesquiterpenoid, hormon eclosion, dan hormon bursicon (Klowden, 2007).
  • Peningkatan titter 20HE mengakibatkan epidermis terpisah dari kutikula lama (apolysis) sehingga menciptakan ruangan antara kutikula dan epidermis (ruang eksuvial), selanjutnya ruang exuvial diisi oleh cairan molting yang mengandung enzim inaktif, chitinolytic (chitinase dan protease), yang mampu mencerna kutikula lama begitu teraktivasi (Klowden, 2007). Sementara itu, sel-sel epidermis terorganisir kembali untuk sintesis sejumlah besar protein serta sekresi epikutikula dan kutikula baru. Setelah titer 20HE mulai menurun, enzim dalam cairan molting diaktifkan untuk memulai proses pencernaan prokutikula (endokutikula yang tidak tersklerotisasi). Setelah proses ini selesai, cairan molting diserap kembali dan pengerasan pra-ecdysial kutikula baru berlangsung (Reynolds, 1987). Akhirnya, saat titer 20HE menurun ke tingkat basal, kutikula lama terlepas (ecdysis) dengan diawali pelepasan crustacean cardioaktive peptide (CCAP), hormon eclosion, dan ecdysis-triggering hormone, yang bersama-sama bekerja pada sejumlah target didalam memastikan selesainya proses molting (Klowden, 2007). Hormon Eclosion (EH) memulai pelepasan CCAP dari sel-sel ventral ganglion yang menonaktifkan perilaku pre-ecdysis dan bersama-sama dengan EH mengaktifkan perilaku ecdysis. CCAP bertanggung jawab sebagai motor pemicu dalam menyelesaikan ecdysis. EH juga terlibat bersama hormone bursicon untuk pengerasan kutikula (Klowden, 2007).
Apa peranan Hormon Juvenile (JH) dalam Molting Serangga?

Dalam pembahasan tentang pengaturan hormon pada molting serangga, sepertinya tidak disinggung tentang peran hormon Juvenil dalam proses tersebut dan ini pasti membuat anda bertanya-tanya:
“Bagaimana aksi hormon juvenile itu?” Dimana ia diproduksi?” Apa peranannya dalam molting?”

Berikut ini adalah jawabannya:

  • JH dihasilkan oleh Corpora allata, pasangan organ neurohemal lainnya, terletak tepat di belakang corpora cardiac dalam system endokrin serangga. 
  • JH menghambat perkembangan karakteristik dewasa selama fase pradewasa dan mendorong kematangan seksual selama fase dewasa (Meyer, 2005; Klowden, 2007).
  • JH dihasilkan selama instar larva atau nimfa, dimana pada molting larva→larva (serangga holometabola) JH menghambat perkembangan larva menuju pupa, pada molting nimfa→nimfa (serangga hemimetabola) dihasilkan untuk menghambat gen-gen yang mempromosikan perkembangan karakteristik dewasa, misalnya, sayap, organ reproduksi, dan alat kelamin eksternal, sehingga  menyebabkan serangga untuk tetap "immature" (dalam nimfa atau larva). 
  • Saat menjelang dewasa (nimfa) dan menjelang pupasi (larva) JH semakin menurun dan menjadi tidak ada atau tidak aktif saat nimfa menjadi dewasa dan larva menjadi pupa. 
  • JH akan diaktifkan atau dihasilkan kembali saat serangga memasuki kematangan seksual atau siap untuk reproduksi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam molting, JH berperan sebagai pengontrol perkembangan serangga dari pradewasa (immature) menuju dewasa (adult) melalui pengaturan konsentrasinya yang sesuai.

Penutup
  1. Serangga melakukan molting atau pergantian kulit karena penambahan ukuran atau volume tubuhnya tidak diikuti dengan pembesaran kutikula atau eksoskeleton yang menutupi tubuhnya.
  2. Molting dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu dalam tubuh serangga, dan proses ini meliputi penggantian lapisan kutikula dinding tubuh, lapisan kutikula trakea, foregut, hindgut, dan struktur endoskeleton.
  3. Perubahan morfologi dan ultra-struktural yang terjadi pada epidermis selama pertumbuhan dan perkembangan serangga tergantung pada pengaturan ekspresi gen dengan titer yang berbeda dari 20HE dengan ada atau tanpa JH. Setiap gangguan dalam homeostasis terhadap produksi hormon-hormon ini akan mengakibatkan pertumbuhan atau perkembangan yang abnormal pada serangga sasaran. Demikian pula, setiap gangguan pada hormon-hormon yang terlibat dalam sintesis dan/atau resorpsi kutikula akan merugikan kelangsungan hidup pada tahap perkembangan yang terpengaruh.

Referensi:

  • Gullan, D. J. and Cranston, P. S. (2005) The Insects: An Outline of Entomology Blackwell Publishing Ltd, UK.
  • John R. Meyer. 2005. “Hormonal Control of Molting & Metamorphosis”. General Entomology. ENT 425. Department of Entomology. NC State University. Last Updated: 8 April 2009. http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425/library/tutorials/internal_anatomy/molting.html.
  • Klowden MJ. 2007. Physiological Systems in Insects. Second Edition. Academic Press, Elsevier. Burlington, 01803, USA. 688p.
  • McGavin, G. C. (2001) Essential Entomology; An order by order introduction. Oxford University Press, New York.
  • Reynolds SE. 1987. The cuticle, growth and moulting in insects: the essential background to the action of acylurea in¬secticides. Pestic. Sci. 20:131–46.
  • Triplehorn, C. A. and Johnson, N. F. (2005) Borror and DeLong’s Introduction to the Study of Insects (7th Ed). Brooks/Thomson Cole USA.

SEPERTI APAKAH SERANGGA MELAKUKAN MOLTING? SIMAK SAJA VIDEONYA

MOLTING PADA CICADA (HOMOPTERA: CICADIDAE)



VIDEO TELAH DIPERCEPAT HINGGA 200 KALI
 

Original Source:

VIDEO TELAH DIPERCEPAT HINGGA 200 KALI