23 Maret 2011

MIGRATORY LOCUST: BELALANG KEMBARA


Yos F. da Lopes. Copyright © 2011.  Last updated 23 Maret 2011.
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

Kingdom: Animalia
Phylum : Arthropoda
Class: Insecta
Order: Orthoptera
Suborder: Caelifera
Family: Acrididae
Subfamily: Oedipodinae
Tribe: Locustini
Genus: Locusta
Species: migratoria

Nama Ilmiah:     Locusta migratoria (Linnaeus, 1758).
Sinonim: Locusta dancia L.; Pachytylus migratorius; P. danicus; Acridium migratorium.

Belalang kembara terdiri atas beberapa spesies utama, yaitu Locusta migratoria migratoria (Asia Barat dan Tengah, Eropa Timur), Locusta migratoria migratorioides (daratan Afrika dan pulau-pulau Atlantik), Locusta migratoria Capito (Madagaskar), Locusta migratoria manilensis (Asia Timur termasuk Indonesia), dan spesies lainnya seperti Schistocerca gregarius dan Nomadacris septemfasciata.

MORFOLOGI & BIOLOGI

Belalang dewasa panjang tubuhnya 35-50 mm pada jantan, 45-55 mm pada betina; dewasa gregarius bervariasi dalam ukuran antara 40 dan 60 mm menurut jenis kelaminnya dan lebih kecil daripada dewasa yang hidup soliter. Frons vertical; elytra panjang, mengkilat, 43.5-56.0 mm pada jantan, 49.0-61.0 mm pada betina. Sayap berwarna, tanpa bands. Femora belakang hitam-kebiruan mulai dari bagian basal. Panjang femur belakang 22-26 mm pada jantan, 20-32 mm pada betina. Tibia belakang kekuningan atau merah. Thorax ditutupi dengan sejumlah rambut pendek. Pronotum tanpa cruciform,  berbentuk pelana pada individu fase gregariuos, dengan strangulasi (strangulation) yang jelas dan “median keel” yang lurus atau sedikit cekung (tampak lateral). Pada individu fase soliter, pronotum tidak memiliki strangulasi, dengan “median keel” yang cembung (tampak lateral). Larva memiliki 5 instar.

Gambar 1. Nimfa Soliter Locusta Migratori
Warna dan ukuran belalang kembara bervariasi sesuai fase (bentuk gregarius atau soliter) dan umur. Nimfa gregarius berwarna kuning hingga oranye dengan bintik-bintik hitam. Nimfa soliter berwarna hijau (Gambar 1) atau coklat. Dewasa gregarius berwarna kuning kecoklatan. Dewasa soliter berwarna coklat dengan berbagai tingkatan warna hijau tergantung pada warna vegetasi. 

DISTRIBUSI

Belalang kembara (Locusta migratoria) memiliki sebaran yang luas, mulai dari Afrika, Asia, Australia, dan Selandia Baru. Belalang ini juga tersebar pada hampir semua daerah beriklim sedang dan tropis di belahan timur bumi, batas utara di Eurasia hingga batas selatan zona taiga, bagian tengah dan selatan Eropa, Kaukasus, selatan Siberia dan Primorskii Territory, Kazakhstan, Asia Tengah, pulau Kurile.

Belalang kembara sangat mobile, dan terbang mengikuti angin dengan kecepatan sekitar 15-20 km/jam, mencapai 5-130 km atau lebih dalam sehari; kelompok belalang berkisar kurang dari satu kilometer persegi sampai beberapa ratus kilometer persegi dengan 4-80 juta individu per kilometer persegi.

EKOLOGI

Setelah telur belalang menetas, perkembangan berlangsung 35-40 hari (yaitu, 7-8 hari untuk setiap instar). Nimfa fase gregarius umumnya ada bersama kelompok pada hari-hari pertama setelah menetas. Kepadatan maksimum mencapai 80.000 indidvidu/m2 untuk nimfa instar pertama dan 7.000 individu/m2 untuk nimfa instar ke-5. Nimfa instar ke-5 dapat bermigrasi mencapai 3 km/hari. Pengembaraan (migrasi) belalang dimulai sekitar 10 hari setelah bersayap. Kopulasi mulai terjadi dalam 2-4 minggu setelah bersayap; dalam 2-3 minggu, betina mulai bertelur. Setiap betina dapat menghasilkan 2-3 kelompok telur (untuk daerah selatan dan pada cuaca hangat) berisi rata-rata 60-80 telur. Setiap individu belalang dapat mengkonsumsi 300-500 gram pakan hijau selama hidupnya; seekor belalang dewasa dapat mengkonsumsi sekitar 2 gram pakan segar per hari atau setara dengan satu ton pakan per satu juta belalang. Dinamika populasi bergantung erat pada perubahan neraca air di daerah reproduksi; banjir dan kekeringan yang menyebabkan kurangnya pasokan makanan dan tempat untuk reproduksi. Perkembangan populasi belalang juga terjadi akibat dari perubahan iklim dengan curah hujan rata-rata 177,9 mm/tahun dengan hari hujan 11,3 kali/bulan; suhu rata-rata berkisar 23,6°C – 26,8°C dengan rata-rata suhu siang hari 31,1°C.

Belalang kembara memiliki alat indra mata, telinga dan kumis yang digunakan sebagai antena. Alat indra tersebut berfungsi untuk mengatur sistem perpindahan, informasi serta komunikasi antara jantan dan betina dalam perkembangbiakannya. Komunikasi sesama belalang kembara ini berada pada rentang frekuensi puluhan kilo hertz dan merupakan jenis gelombang ultrasonic.

Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin. Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari tersebut biasanya dimakan sampai habis. Sedangkan kelompok besar nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok.

POLIFENISME

Belalang kembara bersifat polyphonic, yaitu memiliki fase transisi (intermediate) antara dua fenotipe utama dalam responnya terhadap kepadatan populasi, fase soliter dan fase gregarius. Karena meningkatnya kepadatan populasi, belalang berubah secara progresif dari fase soliter ke fase gregarius melalui fase intermediate (Gambar 8). Fase soliter terjadi ketika belalang berada pada populasi rendah. Fase transisi (transient) dimulai saat populasi belalang sudah cukup tinggi dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil. Fase gregarius, terjadi saat kelompok-kelompok belalang telah bergabung dan membentuk gerombolan yang sangat besar yang sangat merusak tanaman.

Gambar 2. Perubahan Fase dari Soliter ke Gregarious dan sebaliknya  
pada  Locusta migratoria  melalui Fase Intermediat  (transiens congregans 
dan transien dissocians (Gambar diadaptasikan dari Walker, 2000)
Perubahan dari fase soliter ke gregarius dan sebaliknya dari gregarius ke soliter dipengaruhi oleh kondisi iklim, biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (di bawah normal). Pada keadaan tersebut, biasanya, terjadi peningkatan konsentrasi populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang. Lokasi tersebut biasanya mempunyai lahan yang terbuka atau banyak rerumputan, tanahnya gembur berpasir, dekat sumber air (sungai, danau, rawa) sehingga kondisi tanahnya cukup lembab. Setelah berlangsung 3-4 generasi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan, bealalang akan berkembang menjadi fase gregarius, melalui fase transient (transient congregans).

Perubahan fase gregarius kembali ke fase soliter, biasanya terjadi apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupannya, terutama karena pengaruh curah hujan, tekanan musuh alami dan atau tindakan manusia melalui usaha pengendalian. Perubahan ini melalui fase transient (transient dissocians). Belalang kembara fase gregarius aktif terbang pada siang hari dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi dan kawin. Pada pagi harinya, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari tersebut biasanya dimakan sampai habis. Sedangkan kelompok besar nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok.

SIGNIFIKANSI EKONOMI

Nimfa dan dewasa fase gregarius sangat berbahaya bagi tanaman gandum, jagung, beras, panicum, sorgum, alfalfa, kacang polong, kacang panjang, kedelai, cengkeh, kentang, tembakau, kubis, ketimun, semangka, melon, dan jenis labu lainnya, kapas, rami, sayuran, tanaman buah yang masih muda, tanaman hutan, dan tanaman rempah, padang rumput ternak. Individu fase soliter menimbulkan kerusakan kecil pada tanaman sayuran berbagai padi, kapas, dan tanaman perkebunan tertentu. Populasi belalang kembara yang sangat tinggi dapat menimbulkan kerusakan tanaman holtikultura (padi, jagung dan sayur-sayuran) sampai dengan tanaman kelapa sawit. Pada tahun 1999 serangan hama belalang kembara mencapai 9 kecamatan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dengan luas daerah serangannya mencapai 4420 ha daerah pertanian dan perkebunan.

PENGENDALIAN

Belalang kembara dapat dikendalikan melalui pengendalian dengan musuh alami menggunakan jamur Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana; kultur teknis/pola tanam dengan cara pengaturan pola tanam dan sanitasi lingkungan; fisik/mekanis dengan cara pemusnahan kelompok telur dengan pengolahan tanah langsung dan penangkapan dengan menggunakan jaring kemudian dimusnahkan; dan Pengendalian dengan insektisida berbahan aktif BPMC, betasiflutrin, deltametrin, klorprifos, sipermetrin, tiodikarb, MIPC, fipronil, dan karbaril.
  


REFERENSI
  • Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2007. Pedoman Pengendalian OPT Serealia. Departemen Pertanian. Jakarta.
  • Grichanov, Igor Yakovlevich. 2009. Pests. Locusta migratoria L. - Migratory Locust, Asiatic Locust. ©2003-2009 Project: Interactive Agricultural Ecological Atlas of Russia and Neighboring Countries. Economic Plants and their Diseases, Pests and Weeds. http://www.agroatlas.ru/en/content/pests/Locusta_migratoria/. Diakses pada Tanggal 30 Januari 2011.
  • Sitompul, Stepanus S., 2005. Pengendalian Hama Belalang Kembara (Locusta migratoria) dengan Menggunakan Gelombang Ultrasonik di Kalimantan Barat. Suatu Penelitian Eksperimental Dengan Pendekatan Biofisika. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
  • Walker, Annette, The Reed Handbook of Common New Zealand Insects, Reed Books, 2000 ISBN 0-7900-0718-5.

TIPE-TIPE LARVA SERANGGA

Larva Serangga Notodentidae (Photo oleh: Yos F. da Lopes. Ditemukan pada tanaman pohon di Kawasan Merapi)

TIPE LARVA BERDASARKAN JUMLAH KAKI
  1. Apoda, yaitu larva yang tidak berkaki. Larva apoda biasanya bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya (Gambar 1).
  2. Oligopoda, yaitu larva yang memiliki hanya 3 pasang kaki pada thoraks, misalnya, larva kumbang koksi (Gambar 2).
  3. Polipoda, yaitu larva yang berkaki lebih dari 3 pasang, baik pada thoraks (kaki sesungguhnya) maupun pada ruas abdomen (prolegs atau kaki semu), misalnya, pada kebanyakan larva ordo Lepidoptera seperti ulat jengkal (Gambar 3).
TIPE LARVA BERDASARKAN BENTUK TUBUH
  1. Campodeiform, yaitu larva yang bentuk tubuh pipih (gepeng); kaki panjang; biasanya memiliki cerci dan caudal filaments (Chu, 1949); kepala prognathous; umumnya sangat aktif dan berperan sebagai predator; misalnya, larva ordo Coleoptera seperti kumbang koksi (Coccinelidae, Gambar 2A), Dytiscidae, Carbidae, Staphylinidae.
  2. Scarabeiform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical dan membentuk huruf C; kepalanya hypognathous dan terbentuk dengan jelas; memiliki kaki pada toraks dan pendek; tidak memiliki proleg, (Chu, 1949); misalnya, adalah larva kumbang tanah (Coleoptera: Scarabeidae, Gambar 2B), Bruchidae, Ptinidae, Anobiidae.
  3. Carabiform, yaitu larva yang bentuknya merupakan modifikasi larva campodeiform, yang mana tubuhnya gepeng tetapi kakinya lebih pendek dan umumnya tidak memilki caudal filaments (Chu, 1949), misalnya, larva ordo Coleoptera seperti Chrysomelidae (Gambar 4), Lampyridae, Carabidae, Melyridae.
  4. Elateriform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical-memanjang serta dinding tubuhnya tebal dan keras; setae jauh berkurang; kaki biasanya ada tapi pendek (Chu, 1949); kepala prognathous; dan umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, Tenebrio molitor (Coleoptera: Tenebrionidae), Elateridae (Gambar 2C), Alleculidae, Ptilodactylidae, dan Eurypogonidae.
  5. Platyform, yaitu larva dengan bentuk tubuh pendek, lebar dan gepeng (pipih); kakinya sangat pendek, inconspicuous atau absen (Chu, 1949); kepala hyphognathous; beberapa spesies mempunyai spines (duri) yang beracun; umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, larva Limacoid (Lepidoptera: Limacodidae, Gambar 5).
  6. Eruciform, yaitu larva dengan bentuk cylindrical dengan ruas tubuh yang sangat jelas; memiliki kaki pada toraks dan proleg;  kepala hypognathous dan jelas terbentuk (Chu, 1949); kakinya sangat pendek; antena sangat kecil; misalnya, larva ordo Lepidoptera (Gambar 3A, 3B, 3C), Tenthredinidae, Mecoptera. (lihat 1,2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9)
  7. Vermiform, yaitu larva dengan bentuk tubuh yang menyerupai cacing (wormlike), cylindrical, memanjang (elongate), tanpa lokomotif appendages (Chu, 1949); apodous sehingga bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya; tidak bermata; misalnya,  sebagian besar larva ordo Diptera (Tephritidae, Gambar 1A), larva woodboring beetles, beberapa sawflies dan flea beetles genus Systena dan Epitrix, larva Hymenoptera (Formicidae, Gambar 1B dan Vespidae, Gambar 1C).

REFERENSI
  • Chen, Sicien. 1946. Evolution of Insect Larva. Transactions of the Royal Entomological Society of London 1946. 97:381-404. http://www.uky.edu/Classes/ENT/660/chen.htm. Diakses pada Tanggal 29 Januari 2011.
  • Chu, H.F. 1949. How to Know the Immature Insects. WM. C. Brown Company Publishers. Dubugue, Iowa.
  • Stehr, Frederick W. 1991. Immature Insects. Copyright ©1991 by Kendall/Hunt Publishing Company. Library of Congress Catalog Card Number: 85-81922 ISBN 0-8403-4639-5. 2460 Kerper Buolevard P.O. Box 539 Dubuque, Iowa 52004-0539.

21 Maret 2011

PRADEWASA LEPIDOPTERA: DANAEIDAE

Deskripsi Singkat:
  • Karakteristik: mesothorax dan kadang segmen lainnya memiliki filaments.
  • Nama umum: Milkweed butterflies, karena kebanyakan hidup dengan memakan pada milkweeds, Asclepias sp. (Gentianales: Apocynaceae).
  • Terdapat sekitar 300 spesies tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar ditemukan di wilayah tropis Asia dan Afrika. Empat spesies ditemukan di Amerika Utara: Monarch Butterfly (Danaus plexippus); Ratu (Danaus gilippus); Tropical Milkweed Butterfly (Lycorea cleobaea), dan Butterfly Soldier (atau "Tropic Queen"; Danaus eresimus).
  • Tipe larva eruciform/polipoda
  • Beberapa penulis mengklasifikasikan famili ini sebagai subfamili dari famili Nymphalidae. Akan tetapi, banyak penulis lain menerima klasifikasi tradisional, Danaidae, sebagai famili tersendiri. Pemisahan ini didasarkan pada kesamaan tahap awal, kebiasaan (habit) yang sama, dan sifat beracunnya (poisonous nature).
  • Habitat: Teresterial (hidup di darat). Dapat ditemukan pada semak, rumput-rumputan atau gulma pertanian.

Referensi:

18 Maret 2011

DIAMONDBACK MOTH: PLUTELLA XYLOSTELLA

Larva Plutella xylostella
(Photo: Clemnson University - USDA, IPM Images)

Nama umum: Ulat daun kubis, diamondback moth
Nama ilmiah: Plutella xylostella
Filum: Arthropoda
kelas: Insecta
Odo: Lepidoptera
Famili: Plutellidae
Inang: Tanaman dalam family Brassicaceae, termasuk  broccoli, Brussels sprouts (kubis Brussel), cabbage (kol), Chinese cabbage (kubis), cauliflower (kol bunga), collard, kale, kohlrabi, mustard, lobak dan selada air.

DESKRIPSI

Larva berukuran kecil (sekitar 0,33 inci ketika tumbuh penuh). Tubuh larva melebar di bagian tengah dan meruncing ke arah anterior dan posterior dengan dua proleg pada segmen terakhir (posterior) membentuk huruf-V.  Ketika terganggu, larva bergerak  panik atau cepat menempel pada garis sutra menuju daun. Larva sebagian besar makan daun luar atau daun tua baik pada tanaman tua maupun titik-titik tumbuh tanaman muda. Larva juga akan memakan tangkai bunga dan kuncup bunga. Siklus hidup harva berlangsung 10 sampai 14 hari dan menbentuk kokon pada daun atau tangkai untuk pupasi. Telur ngengat berukuran sangat kecil, agak bulat telur, diletakkan secara tunggal pada sisi bawah daun. 

KERUSAKAN:

Infestasi ngengat Diamondback paling serius ketika mereka merusak mahkota atau titik tumbuh tanaman muda atau kubis.

Diamondback moth, Plutella xylostella (Linnaeus): A. Telur  (Photo: Whitney Cranshaw, Colorado State University, IPM Images); B. Larva (Photo: Clemson University - USDA Cooperative Extension Slide Series, IPM Images); C. Pupa dalam kokon sutera (Photo: Jack Kelly Clark, UC Statewide IPM Project, University of California); D. Ngengat dewasa (Photo: Jack Kelly Clark, UC Statewide IPM Project, University of California); E. Pupa Plutella xylostella yang terparasit oleh Diadegma insularis (Photo: Earl R. Oatman, IPM Images)

PENGELOLAAN

Menggunakan musuh alami dan insektisida.

Musuh alami sering efektif mengendalikan ngengat Diamondback, seperti tawon ichneumonid, Diadegma insularis, telah diidentifikasi sebagai parasit yang paling umum. Trichogramma pretiosum juga dapat menyerang telur Diamondback. Berbagai predator seperti kumbang tanah, kepik predator, larva lalat syrphid, dan laba-laba dapat menjadi faktor penting dalam mengendalikan populasi. Penyakit mikroba belum diketahui menjadi faktor penyebab kematian yang signifikan.

Pengendalian biologis dan penyemprotan Bacillus thuringiensis dan formulasi Entrust spinosad merupakan pengelolaan secara organic yang akseptibel.

Monitoring lahan secara teratur perlu dilakukan untuk pengambilan keputusan pengendalian hama ini.



Last updated: 18 Maret 2011
Yos F. da Lopes. Copyright © 2011. 
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

04 Maret 2011

ALIMENTARY CANAL

Sistem pencernaan serangga adalah sistem tertutup, berupa tabung tertutup yang memanjang sepanjang tubuhnya, dan disebut sebagai “alimentary canal”. Alimentary canal hanya memungkinkan makanan masuk melalui mulut, dan kemudian akan diproses saat berpindah menuju anus. Saluran pencernaan serangga memiliki bagian khusus sebagai penghancur dan penyimpanan makanan, produksi enzim dan penyerapan hara (McGavin, 2001; Triplehorn & Johnson, 2005). Pada kebanyakan serangga, alimentary canal terbagi menjadi tiga wilayah fungsional: foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum). Selain saluran pencernaan, serangga juga memiliki pasangan kelenjar ludah (salivary glands);  reservoir saliva (saliva reservoir); saluran saliva (salivary ducts); salivarium; hypopharynx (Meyer 2009).

Gambar 1. Alimentary Canal pada Belalang (Orthoptera: Acrididae): A. esophagus; B. Crop; C. proventriculus; D. gastric caecum; E. ventriculus; F. Malphigian tubule; G. Ileum; H. colon; I. rectum; J. rectum pads; K. anus

Pada serangga,  pengolahan makanan terjadi dalam tabung saluran pencernaan yang disebut “alimentary canal” yang memanjang melalui tubuh dari mulut hingga anus. Alimentary  canal ini terbagi atas tiga wilayah fungsional, yaitu foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum). Alimentary  canal ini terbagi atas tiga wilayah fungsional, yaitu foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum).

Stomodaeum (Foregut)

Mulut (mouth, Gambar 2A) serangga adalah katup berotot (sphincter) yang merupakan bagian terdepan dari foregut. Makanan di buccal cavity (Gambar 2B) tersedot ke dalam mulut dan masuk ke pharynx (Gambar 2C) oleh kerja kontraktil cibarial muscles, Gambar 2D). Dari pharynx, makanan masuk ke esophagus (Gambar 1A dan 2E) dengan cara peristaltik (kontraksi ritmis otot dinding usus). Esofagus merupakan sebuah tabung sederhana yang menghubungkan pharynx dengan crop (Gambar 1B; 2F), organ penyimpanan makanan. Makanan tetap berada dalam crop hingga dapat diproses oleh bagian alimentary canal selanjutnya. Sementara berada dalam crop, beberapa pencernaan mungkin terjadi sebagai akibat enzim saliva yang ditambahkan dalam rongga bukal dan/atau enzim lainnya yang dikeluarkan dari midgut.
Gambar 2. Bagian-bagian Stomodeum (foregut): A. mouth; B. buccal cavity; C. pharynx; D. cibarial muscles; E. esophagus; F. crop; G. proventriculus; H. stomodeal valve (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)

Pada beberapa serangga, crop membuka secara posterior  mencapai proventriculus (Gambar 1C dan 2G). Organ ini memiliki alat seperti gigi untuk menggiling dan melumatkan partikel makanan. Stomodeal valve (Gambar 2H), sejenis otot sphincter yang terletak tepat di belakang proventrikulus, mengatur aliran makanan dari stomodeum ke mesenteron.

Mesenteron (Midgut)

Midgut berawal tepat setelah katup stomodeal. Di belakang stomodeal valve, tonjolan seperti jari (biasanya bisanya berjumlah 2 hingga 10) yang disebut gastric caecum (Gambar 1D; dan 3A).

Gambar 3. Bagian-bagian Mesenteron (midgut):  A. gastric caecae; B. ventriculus; C. cardial epithelium; D. peritrophic membrane; E. pyloric valve (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)
Bagian selanjutnya dari midgut  disebut ventriculus (Gambar 1E dan 3B) sebagai tempat pencernaan enzimatik makanan dan penyerapan nutrisi. Midgut dilapisi dengan membran semipermeabel yang dikeluarkan oleh sekelompok sel, cardial epithelium, Gambar 3C), yang berada tepat di belakang stomodeal valve. Membran peritrophic (perithropic membrane, Gambar 3D) terdiri dari fibril kitin yang tertanam dalam matriks protein-karbohidrat. Ujung posterior  midgut diakhiri dengan otot sphincter berupa katup pylorus (pyloric valve, Gambar 3E), yang mengatur aliran material dari mesenteron ke proctodeum.

Proctodaeum (Hindgut)

Proctodeum diawali dengan puluhan hingga ratusan Malphigian tubules (Gambar 1F dan 4A) yang  memanjang  di hampir seluruh rongga abdomen, berfungsi sebagai organ ekskretoris, membebaskan limbah nitrogen beracun (terutama ion amonium, NH4+) dari hemolymph. 

Gambar 4. Bagian-bagian Proctodeum (hindgut): A. Malpighian tubules (warna merah); B. ileum; C. colon; D. rectum; E. rectal pads; F. anus (Gambar diolah berdasarkan Meyer, 2009)

Bagian hindgut selanjutnya berperan penting dalam homeostasis dengan mengatur penyerapan air dan garam dari produk limbah dalam alimentary canal. Pada beberapa serangga (seperti belalang), hindgut terdiri atas ileum (Gambar 1G dan 4B), colon (Gambar 1H dan 4C), dan rectum (Gambar 1I dan 4D). Efisiensi penggunaan air difasilitasi oleh enam bantalan dubur (rectal pads, Gambar IJ dan 4E) yang tertanam di dinding rektum. Organ-organ ini membebaskan lebih dari 90% air dari pelet tinja sebelum keluar dari tubuh melalui anus (Gambar 1K dan 4F).


Referensi:
  • Gullan, D. J. and Cranston, P. S. 2005. The Insects: An Outline of Entomology Blackwell Publishing Ltd, UK.
  • McGavin, G. C. 2001. Essential Entomology; An order by order introduction. Oxford University Press, New York.
  • Meyer, John R. 2009. General Entomology - Digestive and Excretory Systems. Department of Entomology NC State University. Last Updated:   8 April 2009. http://www.cals.ncsu.edu/course/ent425/library/tutorials/internal_anatomy/digestive.html. Diakses pada 02 February 2011.
  • Triplehorn, C. A. and Johnson, N. F. 2005. Borror and DeLong’s Introduction to the Study of Insects (7th Ed). Brooks/Thomson Cole USA.

TETRIGIDAE DAN TETTIGONIIDAE

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur



Tetrigidae dan Tettigoniidae adalah dua family dari family-famili yang masuk dalam ordo Orthoptera. Perbedaan antara Tetrigidae dan Tettigoniidae terletak pada karakteristik pronotum dan keberadaan organ auditory dan stridulatory. Pada Tetrigoniidae, pronotum kecil memanjang, meruncing, yang dapat menutupi sayap (jika terdapat sayap), dan melampaui ujung perut (Borror et al., 1989; Allaby, 1999a; Troy, 2004a); organ auditory dan stridulatory absen (Troy, 2004a). Sedangkan, pada Tettigoniidae atau Orthoptera lainnya, pronotum pendek dan tidak melingkupi baik pada abdomen maupun sayap (Grimaldi & Engel, 2005); organ auditory berkembang dengan baik (Allaby, 1999b).



Famili Tetrigidae (Order Orthoptera, Suborder Caelifera):
  • Tetrigidae (groundhoppers, grouse locusts, pygmy locusts; order Orthoptera, suborder Caelifera) adalah family dari belalang kecil, berwarna kusam yang memiliki karakteristik yang utama adalah pronotum kecil memanjang, meruncing, yang dapat menutupi sayap (jika terdapat sayap), dan melampaui ujung perut (Borror et al., 1989; Allaby, 1999a; Troy, 2004); menyerupai bantalan (pad-like), kadang-kadang tidak ada, mungkin terpapar atau ditutupi oleh pronotum depan. Orthoptera lainnya memiliki pronotum pendek dan tidak melingkupi baik pada abdomen maupun sayap. Tarsi tengah Tetrigidae bersegmen 2, tarsi belakang dengan 3 segmen (rumus 2-2-3);  pada beberapa jenis, tibiae belakang meluas (untuk berenang); spesies tunggal dapat bersayap pendek dan bersayap panjang, atau tidak bersayap sama sekali;  organ auditory dan stridulatory absen (Troy, 2004a).
  • Ukurannya kurang dari 20 mm panjang (Borror et al, 1989; Troy, 2004a) atau sekitar 6-16 mm panjang tubuhnya (Troy, 2004a).
  • Warna dan pola, bahkan dalam satu spesies, bervariasi; seringkali sangat seksual dimorfik, baik dalam ukuran (betina biasanya lebih besar) dan warna; beberapa spesimen tampak hijau karena ditutupi algae (Troy, 2004a). Akan tetapi, umumnya, Tetrigidae memiliki warna yang tersamarkan atau tidak jelas (Grimaldi & Engel, 2005). Beberapa spesies memiliki pronota yang membesar, meniru daun, batu atau ranting (Preston-Mafham, 1990).
  • Tetrigids biasanya ditemukan di tanah/daerah lembab, dan memakan alga atau lumpur kaya bahan organik (Allaby, 1999a); hidup di dekat air, seperti kolam dan sungai, kadang-kadang ditemukan di habitat kering, hutan-hutan, ladang tua, daerah berpasir dengan lumut; memakan akar tanaman atau bibit, lumut, jamur, ganggang, kotoran organik; beberapa belalang dewasa dilaporkan melompat ke dalam air dan berenang menjauh (di bawah air) sebagai mekanisme melarikan diri (Troy, 2004a).
  • Di seluruh dunia, terdapat sekitar 27 genus dan 1400 spesies (Troy, 2004a),  walaupun 50 spesies Palaearctic (Allaby, 1999a). Terdaftar 56 spesies di Papua: 13 spesies endemic Papua Indonesia, 26 PNG, dan 14 New Guinea,  spesies yang belum diketahui secara pasti dari Papua Indonesia adalah berwarna abu-abu (Tumbrinck, 2010).

Famili Tettigoniidae (Order Orthoptera, Suborder Ensifera):
  • Tettigoniidae (bush katydids, cone-headed grasshoppers, katydids, listroceline grasshoppers, long-horned grasshoppers, meadow grasshoppers, pine-tree katydids, shield-backed grasshoppers; order Orthoptera, suborder Ensifera) adalah family ensiferans di mana komunikasi auditory berkembang dengan baik (Allaby, 1999b). Ovipositor biasanya pipih dan berbentuk seperti pedang;  kebanyakan spesies fitofag, namun ada juga yang predator pada serangga lain (Foltz, 1998; Allaby, 1999b; Gwynne & Glenn, 2002; Coitins, 2004).
  • Terdapat lebih dari 7.000 spesies dalam dari 1.000 genus, ditemukan di semua benua kecuali Antartika; sayap diletakkan secara vertical menutupi tubuh, antena yang sangat panjang dan menyerupai benang, sering melewati ujung abdomen; tarsi dengan 4 segmen (rumus 4-4-4); tympana (organ pendengaran) terdapat pada tibiae depan (Foltz, 1998; Coitins, 2004).
  • Tidak seperti belalang dan jangkrik, baik jantan maupun betina menghasilkan suara dengan menggosok forewings (sayap depannya). Katydids dapat terbang dalam jarak pendek ketika terancam, tetapi lebih suka melompat dan memanjat.
  • Panjang tubuhnya dapat mencapai 1,5 sampai 2.5 inci  (38-64 mm), tetapi beberapa spesies tropis melebihi 6 inci (15 cm). Kebanyakan berwarna hijau dan memiliki sayap menyerupai daun, sehingga sulit dideteksi oleh predatornya.
  • Memiliki kaki belakang yang panjang dan kuat, dan empat sayap yang terlipat memanjang ketika beristirahat. Sayap menyerupai film dan memanjang melampaui tubuh.
  • Dapat ditemukan di hutan, semak, atau lahan dengan banyak semak belukar atau pepohonan,  menghabiskan sebagian besar waktunya di puncak pohon dimana terdapat banyak daun.



Referensi:
  • Allaby, Michael. 1999a. "Tetrigidae." A Dictionary of Zoology. Encyclopedia.com. http://www.encyclopedia.com/doc/1O8-Tetrigidae.html. Diakses pada Tanggal 1 February 2011.
  • Allaby, Michael. 1999b. "Tettigoniidae." A Dictionary of Zoology. Encyclopedia.com. http://www.encyclopedia.com/doc/1O8-Tettigoniidae.html. Diakses pada 01 Februay 2011.
  • Borror DJ, Tripplehorn CA, Johnson NF. 1989.  An Introduction to the Study of Insects, 6th edition. Harcourt Brace College Publishers. New York. pg 213
  • Cotinis. 2004. Family Tettigoniidae – Katydids. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by Robin McLeod, v belov. Last updated 20 September, 2010 - 12:38am. Copyright © 2003-2011 Iowa State University. http://bugguide.net/node/view/164. Diakses pada 01 February 2011.
  • Foltz, John L. 1998. Orthoptera: Tettigoniidae. ENY 3005 Family Identification. University of Florida, Dept of Entomology & Nematology, 29 Sep 1998. Modified 21 May 2004. http://entomology.ifas.ufl.edu/foltz/eny3005/lab1/Orthopteroid/Tettigoniid.htm. Diakses pada Tanggal 01 February 2011.
  • Gwynne, Darryl T. and Glenn K. Morris. 2002. Tettigoniidae. Katydids, Long-horned Grasshoppers and Bushcrickets. Version 26 November 2002. http://tolweb.org/Tettigoniidae/13298/2002.11.26 in The Tree of Life Web Project, http://tolweb.org/. Diakses pada Tanggal 2 Februari 2011.
  • Troy Bartlett. 2004a.  Family Tetrigidae - Pygmy Grasshoppers. Identification, Images, & Information For Insects, Spiders & Their Kin For the United States & Canada. Contributed on 16 February, 2004 - 12:32pm. Additional contributions by cotinis. Last updated 9 October, 2008 - 8:59am. Copyright ©2003-2011 Iowa State University http://bugguide.net/node/view/106. Diakses pada Tanggal 01 February 2011.
  • Tumbrinck, Josef. 2010. The Pygmy Grasshoppers (Orthoptera: Tetrigidae) of Papua Indonesia. Updated on 30 December 2010. Papua-Insects.nl. The Papua Insects Foundation. http://www.papua-insects.nl/insect%20orders/Orthoptera/Tetrigidae/Tetrigidae.htm. Diakses pada Tanggal 1 February 2010.

HEMIPTERA (HETEROPTERA) DAN HOMOPTERA

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Secara historis, Hemiptera dan Homoptera adalah dua ordo serangga yang dibedakan berdasarkan perbedaan dalam struktur sayap dan posisi rostrum yang kemudian digabungkan menjadi ordo Hemiptera, dengan Heteroptera/Hemiptera dan Homoptera sebagai subordonya (Webster's Online Dictionary, 2011). Anantomi dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. A. Anatomi Heteroptera. B. Homoptera (Sumber: Bantock & Botting, 2010)

Heteroptera:
  • Serangga subordo Heteroptera dikenal dengan “true bugs”.
  • Nama Heteroptera, berasal dari bahasa Yunani, yaitu hetero yang berarti “berbeda atau tidak sama” dan ptera yang berarti “sayap” (Meyer, 2009a), yang merujuk pada tekstur sayap depannya (hemelytra) yang sangat khas, dimana bagian basalnya tebal atau keras (leathery) dan bagian apikalnya membranous (Maddison, 1995; McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a).
  • Saat istirahat, sayap ini saling tumpang tindih satu sama lain sepanjang punggungnya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a), membentuk "X" (Meyer, 2009a).
  • Serangga ini memiliki alat mulut penusuk-penghisap (beak atau proboscis), muncul dari bagian ventral kepala prognathous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a) atau anterior kepala hypognathous (Meyer, 2009a) dan umumnya diarahkan melengkung di bagian ventral posterior saat tidak sedang makan atau digunakan (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005a; Meyer, 2009a). Proboscis lebih panjang dari proboscis Homoptera dan besar, terdiri dari 3-4 segmen, dengan diameter tidak lebih dari 0,1 mm saat belum berisi makanan dan air liur (Meyer, 2009a).
  • Antena kecil dan tipis (slender) dengan 4-5 segmen; pronotum biasanya besar, trapesium atau bundar; triangular scutellum terdapat belakang pronotum; tarsi 2 - 3 segmen; pradewasa mirip dewasa, selalu tidak bersayap (Meyer, 2009a).
Homoptera:
  • Serangga suborder Homoptera dikenal dengan nama “leafhoppers, planthoppers, treehoppers, cicadas, aphids, psyllids, whiteflies, scale Insects” dan lain-lain (Meyer, 2009b).
  • Nama Homoptera, berasal dari bahasa Yunani, yaitu homo yang berarti “seragam atau sama” dan ptera yang berarti “sayap”, mengacu pada tekstur sayap depannya yang seragam yang seragam atau membranous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b; WordNet, 2011). Beberapa Homoptera tidak memiliki sayap sekunder (Meyer, 2009b).
  • Saat istirahat, sayapnya tidak tumpang tindih bila dilipat (WordNet, 2011), diletakkan atau dilipat menutupi dorsal atau punggung abdomennya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b) atau dengan dengan salah satu apical sedikit tumpang tindih terhadap apical lainnya (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b).
  • Kepala hypognathous atau opisthog-nathous (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b), beak atau proboscis muncul dari bagian ventral posterior kepala (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b; Meyer, 2009b) atau bahkan dari prosternum (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b) dan lebih pendek daripada proboscis subordo Heteroptera (Meyer, 2009b); gula membranous atau absen (McGraw-Hill Science & Technology Encyclopedia, 2005b).
  • Antene kecil dan tipis (slender) atau menyerupai bulu; tarsi memiliki 1-3 ruas; pradewasa mirip dengan dewasa, selalu tidak bersayap (Meyer, 2009b).


Referensi:
  • Bantock, Tristan & Botting, Joseph.  2010. British Bug. An Online Identification Guide to UK Hemiptera. http://www.britishbugs.org.uk/bug_bits.html. Diakses pada Tanggal 31 Januari 2011.
  • Borror DJ, Tripplehorn CA, Johnson NF. 1989.  An Introduction to the Study of Insects, 6th edition. Harcourt Brace College Publishers. New York. pg 213